Pertama,
Kepada Jamaah JATAYU.
JANGAN HANYA MENGETAHUI YANG LAHIR DARI KEHIDUPAN BERDUNIA, SEDANG KEHIDUPAN AKHIRAT DAN PERTEMUAN DENGAN DIRI DZAT TUHAN LALAI. (Ar Ruum 7 sd 8)
Saat kehidupan berdunia pun beragama dengan segala aktivitasnya didasarkan pengetahuan wawasan lahiriyah jasadiyah material dunia (hanya pengetahuan yang lahir dari kehidupan berdunia) maka perselisihan, benturan, konflik tidak akan bisa dihindari. Sebab pembenaran dan kesepakatan bukan sebagai Kebenaran Tuhan. Berdunialah sebaik-baiknya namun orientasi spiritual batiniyah berada di dalam AlHaqNya (sungguh Tuhan mengadakan (ilmu) hakekat supaya (manusia) dalam pengenalan kepastian arah, dan tujuan).
JADILAH PENEGAK KEHIDUPAN DENGAN YANG SEBENAR-BENARNYA. (QS. 42. Ash-Shura. 13).
Inti tatanan kehidupan berdunia secara kasad mata lahir oleh materi jasadiyah dalam kehidupan sosial bermasyarakat yang diwasiatkan oleh semua Nabi dan Rasul (pasti – mutlak) adalah manusia untuk menjadi penegak kehidupan (kehidupan beragama) yakni sifat, watak, dan perilaku yang tidak menjadi perusak kehidupan, tidak menjadi perusak kebersamaan dan kekeluargaan dan menjaga kesatuan dan persatuan.
Namun tersebutkan, bahwa hal demikian adalah sungguh berat selama rasa hati nurani tidak ada kehadiran Dia Dzat Tuhan Yang AlGhayb Yang Allah NamaNya, dan mereka orang-orang yang hidup dan kehidupannya tidak pernah bertafakkur memikirkan bagaimana nasib jika sewaktu-waktu meninggal dunia, khawatir dan takut jika tidak selamat kembali kepada TuhanNya (orang yang tidak memiliki atau kehilangan orientasi spiritual), sebab jika meninggal dunia tidak kembali pulang kepada Tuhannya, dan hal demikian dalam kondisi abadi abadan. Maka seharusnya adalah keniscayaan mencari kebenaran bukan pembenaran, mencari ILMU, namun kebanyakan manusia merasa cukup dengan pengetahuan, wawasan dan wacana yang ada di dalam diri mereka.
SEMPURNANYA KEHIDUPAN TATANAN LAHIR DENGAN “ILMU, BUTIRAN IMAN” (Al Hujurat 14)
Maka diperintahkan untuk digenapi dengan butiran iman, supaya terlahirkan kembali. Lahirnya kesadaran Ruhiyah.
Hati yang dijaga dari kotoran iri dengki, semuci, kemluhur, merasa cukup. Pikiran yang digunakan untuk berpikir nalar dan rasional. Telinga dan mata yang difungsikan menjadi pendengar dan penyimak. Dan dada yang lapang dan nyegoro. Serta tingkah laku perbuatan dan tindakan yang penuh dengan akhlak dan adab, respon respek dan berkepedulian.
Terwujudnya situasi dan kondisi yang harmonis, saling menyerasikan, menyelaraskan, dan menyeimbangkan. Kehidupan yang tidak berpecah belah, dan orientasi spiritual pada batin yang didalam rasa hati nurani dalam tekad menyatakan selamat kembali pulang kepada Tuhan.
Maka dalam QS. Al Hujurat 14, bahwa kehidupan berdunia yang terselamatkan dan supaya dalam ketaatan kepada Allah dan RasulNya dalam ikatan fakta rasa hati, “saya bersaksi” sehingga berada dalam ampunan, fadhal dan rahmatNya, maka diperintahkan “penggenapan” dengan butiran iman. Sehingga imannya bukan iman yang kira-kira dan prasangka. Iman dalam prasangka perasaan akibat intuisi dan pemikiran. Namun bagaimana supaya berada didalam kepastian fakta rasa hati nurani yang “iman”nya “saya bersaksi”.
Maka lahir jasad bersyareat yang intinya tidak berpecah belah, berbuat kesalehan dan kemaslahatan. Kehidupannya berada dalam kesadaran tidak hanya pengetahuan yang lahir dari kehidupan berdunianya, dan dilengkapi..!!! digenapi dengan hakekat bahwa mutlak ada butiran iman yang berada di dalam jiwa, di dalam dada, didalam rasa hati nurani..!!!
Dari Dhawuh aguru-guru.
DOC. MAKALAH KALENDER 2022 M